Rencana Keuangan

Bagaimana Evaluasi Perencanaan Keuangan Keluarga

written by wisanggeni | October 13, 2017

Kita perlu melakukan evaluasi keuangan keluarga secara rutin. Paling tidak setahun dua kali. Bagaimana caranya dan hal apa yang dievaluasi ?

Evaluasi keuangan keluarga paling tidak setahun dua kali itu sangat penting. Tujuannya, supaya bisa melihat lagi kondisi keuangan sekarang dan ke depannya.

Ini juga untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Paling awal, Anda perlu melihat lagi rasio keuangan dibandingkan dengan posisi di awal tahun, seperti rasio utang terhadap aset dan rasio cicilan terhadap penghasilan.

Kemudian, melihat kembali perencanaan keuangan yang pernah dibuat diawal tahun. Untuk itu, Anda perlu melakukan evaluasi di tengah tahun.

Memang, biasanya evaluasi keuangan keluarga dilakukan setahun sekali di akhir tahun. Tapi, ada baiknya evaluasi setiap enam bulan.

Soalnya, di akhir tahun kelamaan, tidak ada pengingat. Sedang dari hasil evaluasi di tengah tahun, bisa dikejar di semester kedua yang belum tercapai.

Dengan melakukan evaluasi, Anda bisa mengetahui, apakah keuangan keluarga selama semester pertama sehat atau tidak.

Nah, tanda-tanda keuangan Anda tidak sehat yakni:

Pertama, arus kas (cash flow) ternyata negatif. Peribahasa bilang: besar pasak daripada tiang. Pengeluaran Anda lebih besar dari pemasukan.

Kedua, tabungan Anda berkurang atau utang bertambah. Kalau kedua-duanya terjadi, itu berarti lampu merah buat keuangan keluarga Anda.

Hasil evaluasi menjadi bayangan Anda di semester berikutnya, apakah harus menata lagi keuangan.

Sebagai pedoman dalam melakukan evaluasi keuangan di tengah tahun, setidaknya ada lima pos yang sebaiknya Anda lihat. Berikut pos-pos itu:

#1 Cash Flow

Sejatinya evaluasi terhadap arus kas setiap akhir bulan. Tapi, enggak ada salahnya melakukan itu secara menyeluruh di tengah tahun. Terutama, untuk melihat pengeluaran-pengeluaran selama semester pertama.

Sebab, itu tadi, misalnya banyak long-weekend di paro satu tahun ini, yang menyedot pengeluaran. Di periode bulan yang sama, juga waktunya membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran baru, mulai pendaftaran siswa anyar hingga daftar ulang sekolah.

Apakah pengeluaran menjadi lebih besar tidak? Kalau defisit, harus segera ditutup.

#2 Rencana Keuangan

Anda perlu mengevaluasi rencana keuangan yang dibuat di awal tahun, apakah sudah dijalankan atau belum?

Jika telah dilakoni, apakah rencana keuangan yang Anda susun sudah tercapai atau belum?

Bila ada tujuan keuangan yang belum tercapai, kira-kira apa penyebabnya? Apakah lantaran tidak ada sumber dana untuk memenuhi rencana keuangan itu? Atau, ada kejadian lain yang mengganggu pencapaian rencana tersebut.

Contohnya, berinvestasi rutin setiap bulan. Biasanya yang terjadi, orang yang baru mulai berinvestasi suka menunda-nunda melakukannya. Yang sudah berinvestasi pun kadang tidak rutin mengisi rekeningnya.

Khususnya yang menggunakan sistem reguler, transfer tiap bulan, bukan otomatis potong dari rekening tabungan. Mereka kadang bolong.

Alasannya macam-macam. Contoh, uangnya dipakai dulu buat kebutuhan lain. Rencananya, pas mendapat tunjangan hari raya (THR), sebagian uangnya untuk menutup dana investasi rutin bulanan yang bolong-bolong. Eh tapi, begitu THR turun, duitnya masih digunakan untuk membiayai keperluan lain seperti uang daftar ulang sekolah anak.

Dengan melakukan evaluasi rencana keuangan di tengah tahun, investasi rutin bulanan yang masih bolong-bolong bisa ketahuan.

Jika jauh-jauh hari sudah disadari, semakin cepat untuk ditutup. Tentu, kali ini harus betul-betul disiplin menambalnya.

Caranya, dengan merevisi angka dan investasi rutin bulanan. Misal, biasanya sebesar Rp 500.000 per bulan menjadi Rp 750.000 sebulan. Ini dilakukan sampai yang bolong tertutup semua dengan rapat.

#3 Dana Darurat

Berikutnya adalah mengecek dana darurat. Mungkin ada anggota keluarga yang sakit sehingga harus menggunakan pos keuangan ini.

Kalau dana darurat terpakai, maka perlu segera ditambah. Pos dana darurat dalam keuangan keluarga jadi solusi untuk kebutuhan yang tidak disangka-sangka, yang memerlukan penanggulangan segera.

Kebutuhan mendesak ini umumnya bersifat musibah, seperti sakit, kecelakaan, serta kerusakan pada rumah. Dana cadangan itu perlu Anda tempatkan di rekening terpisah dari kebutuhan operasional.

Besaran dana darurat minimal tiga kali dari pengeluaran rutin bulanan. Untuk amannya, dana darurat sekitar enam kali pengeluaran rutin bulanan.

#4 Utang

Anda juga harus melihat posisi utang, apakah jumlahnya berkurang atau malah bertambah dengan adanya pinjaman baru.

Kalau tidak ada utang baru, itu berarti pengeluaran sudah bagus. Jika utang bertambah untuk kebutuhan yang sifatnya produktif, itu tidak ada masalah.

Tentu dengan catatan, besaran cicilannya ditambah dengan angsuran lama tidak lebih dari 30% dari penghasilan bulanan. Kalau ternyata utang Anda membengkak dengan porsi cicilan mencaplok hingga 60% dari penghasilan bulanan, Anda kudu segera memangkas utang-utang konsumtif.

Dana untuk melunasinya bisa dari THR atau bonus tengah tahun jika ada. Utang-utang konsumtif yang menggelembung, misalnya, yang berasal dari tagihan kartu kredit, wajib untuk segera diselesaikan.

Tutup utang supaya tidak makin numpuk, bisa dengan mencari tambahan pendapatan. Jadi, Anda perlu melunasi sebagian pinjaman tersebut hingga cicilan utang turun ke batas sehat.

#5 Pembayaran Wajib

Evaluasi keuangan atas pos pembayaran wajib juga mesti Anda lakukan di tengah tahun. Misalnya, premi asuransi tahunan, pajak kendaraan bermotor, serta pajak bumi dan bangunan (PBB).

Kadang-kadang suka kelupaan meski itu wajib. Dan kalau lewat jatuh tempo, terkena denda. Yang juga masuk pos pembayaran wajib adalah pajak penghasilan (PPh) di luar pendapatan rutin bulanan sebagai karyawan.

Ambil contoh, penghasilan istri dari bisnis di rumah. Sebaiknya, semua pembayaran pajak tahunan disiapkan di semester awal.

Kesimpulan

Selain kelima pos keuangan itu, yang tidak kalah penting adalah asuransi. Anda perlu melihat lagi asuransi yang dimiliki, apakah ada yang perlu diperbarui atau membeli premi baru.

Misalnya, asuransi kesehatan. Cukup dengan menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan atau perlu menambah asuransi lagi.

Lalu, asuransi jiwa. Jika penghasilan bertambah, maka Anda perlu menambah besaran premi asuransi jiwa.

Asuransi jiwa adalah proteksi dari risiko-risiko yang mengintai dalam kehidupan. Contoh, risiko kematian pencari nafkah, kecelakaan, cacat permanen, dan sakit kritis.

Asuransi jiwa memberi proteksi untuk nilai ekonomis seseorang yang diukur dari pendapatannya. Jika risiko itu terjadi, maka bisa dipastikan ekonomi keluarga akan terganggu karena efek dari terhenti atau berkurangnya penghasilan.

Jadi, alangkah bijak membeli asuransi jiwa berdasar uang pertanggungan yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan portofolio investasi?

Sebetulnya, mengevaluasi perkembangan portofolio investasi di pertengahan tahun. Tapi, tidak masalah jika Anda ingin mengeceknya.

Yang sekarang bisa dilakukan, mengumpulkan data-data investasi untuk bisa di-review keseluruhan di akhir tahun nanti.

Dengan melakukan evaluasi di tengah tahun, perencanaan keuangan bisa tetap berada di jalur yang benar dan kondisi keuangan dapat terus sehat.

0 comment

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe Newsletter

Subscribe our Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!