Rencana Keuangan

Tips Bagaimana Menyusun Anggaran Keluarga

written by wisanggeni | November 5, 2018

Anggaran keluarga itu penting dalam pengelolaan keuangan. Tapi, bagaimana menyusun anggaran keluarga yang baik ? Temukan jawabannya. Menjelang akhir tahun, sebagai personal maupun keluarga, Anda perlu membuat anggaran dengan asumsi-asumsi yang mungkin akan atau timbul dalam waktu dekat.

Contoh, bakal ada tambahan anggota keluarga baru, anak masuk sekolah, atau Anda sekolah lanjutan.

Semua asumsi dalam keuangan personal ataupun keluarga, bisa Anda artikan sebagai alokasi anggaran yang mesti disiapkan.

Dalam zaman now, banyak aplikasi yang bisa Anda gunakan untuk membantu dalam membuat anggaran personal maupun keluarga. Juga membantu mencatat secara aktual berapa pengeluaran Anda, bahkan bisa membandingkan aktual atas anggaran.

Cara Membuat Anggaran Keluarga

Untuk membuat anggaran, tentu ada dua komponen besar yang mesti Anda catat, yakni pendapatan dan pengeluaran.

Guna memudahkan penyusunan anggaran, Anda bisa membagi dalam beberapa tahap:

Tahap pertama, catat pos pendapatan. Anda perlu mencatat semua pendapatan seperti gaji bulanan. Jika punya penghasilan lain seperti honor menjadi pengajar, maka semua pendapatan variabel itu perlu Anda masukkan dalam pos pendapatan.

Lalu, Anda memproyeksikan pendapatan itu dalam jangka pendek dan menengah. Untuk gaji dalam pos pendapatan akan lebih mudah buat Anda memproyeksikan setiap bulan, karena sudah tercatat rutin dalam rekening.

Sedang pendapatan non-rutin, harus Anda catat. Pendapatan rutin dan non-rutin bisa Anda proyeksi dengan bantuan aplikasi. Ini akan jauh lebih mudah.

Tahap kedua, mencatat semua pengeluaran selama 30 hari. Nah, ini yang paling membuat orang kadang menyepelekan atau tidak melihat urgensinya.

Coba bayangkan, bila Anda adalah perusahaan, semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan dan ada pejabat yang melakukan otorisasi. Tidak sembarangan menyetujui sebuah pengeluaran.

Begitu juga dengan keuangan personal ataupun keluarga Anda, setiap pengeluaran harus dibuatkan anggarannya.

Kalau anggaran itu tidak ada, bagaimana? Misalnya, untuk keperluan masuk sekolah anak, apakah sudah Anda siapkan?

Untuk tahap kedua, Anda bisa mencatat semua pengeluaran rutin, seperti biaya listrik, air, telepon, iuran lingkungan dan keamanan. Ada atau tidak, Anda tetap perlu membayar tiap bulan, paling enggak abonemennya.

Lalu, Anda lanjutkan dengan mencatat semua pengeluaran non-rutin. Ambil contoh, kongko dengan kolega, nonton bioskop serta konser.

Dari perhitungan tahap satu dikurangi tahap dua, Anda bisa mendapatkan berapa sisa penghasilan setiap bulan. Apakah masih positif alias ada lebih atau sebaliknya, negatif.

Jika Anda punya asumsi personal atau keluarga, bahwa tahun depan akan ada anggota keluarga baru atau dalam dua tiga tahun mendatang berniat untuk melanjutkan pendidikan, maka perlu alokasi khusus dalam proyeksi anggaran pengeluaran tersebut.

Misalnya, biaya untuk kebutuhan bayi seperti beli popok dan susu, atau menyiapkan uang kuliah. Relokasi pos anggaran

Tahap ketiga, kalau selisih antara pendapatan dan pengeluaran sudah mepet, maka lihat lagi pos-pos pengeluaran mana yang bisa Anda pangkas atau relokasi ke pos pengeluaran untuk kebutuhan akan datang.

Contoh, bila asumsinya akan ada anggota keluarga baru dan pasti membutuhkan popok, susu, dan lainnya, maka Anda bisa menyiasati dengan merelokasi pos anggaran lain.

Misalnya, bila setiap hari ke kantor membeli kopi dari kedai tertentu, maka biaya ngopi tersebut bisa Anda pangkas dan ganti dengan membawa sendiri kopi dari rumah. Sehingga, pemangkasan anggaran kopi ini bisa Anda alihkan ke anggaran untuk mempersiapkan kebutuhan calon jabang bayi.

Tahap keempat, bila selisih arus kas (cash flow) mepet dan pos pengeluaran sudah sedemikian hematnya, maka yang bisa Anda lakukan adalah menambah pendapatan.

Misalnya, dengan menyewakan kamar melalui Airbnb. Atau, bisa juga jualan di online marketplace.

Yang juga harus menjadi perhatian dalam membuat anggaran personal atau keluarga adalah gaya hidup. Sebab, gaya hidup identik dengan pengeluaran seperti minum kopi di kedai tertentu.

Apakah Anda rela menukar kebiasaan ini dengan kopi saset dari rumah demi kebutuhan calon bayi. Atau, Anda terbiasa nonton dua kali seminggu di bioskop.

Apakah Anda rela menguranginya menjadi hanya sebulan sekali? Semua berpulang pada Anda pribadi.

Kesimpulan

Yang terpenting adalah, bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran secara disiplin. Itu semua demi mewujudkan mimpi-mimpi Anda di masa yang akan datang.

0 comment

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe Newsletter

Subscribe our Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!